Babak Prahara Saripetojo Bab II


Wis ora usah rame-rame, wong-wong kabeh podho suloyo wis ngerti ono sopo sing pekok. Jian kompak tenan, hahaha ...

Sakmenika pajengenan sedaya mestilah ngerti yen pemimpin loro iki salah sijine ono sing duwe mangkel lan rada satru karo sijine. Kajaba babagan prahara saripetojo uga metu maneh jalaran musabab montor kiat esemka sing digawe pak jokowi dadi montor dines. Yo iku dianggep sembrono karo pak bibit soale durung lulus uji emisi lan uji montor liane, mengko iso-iso nabrak kebo.

Ora ngerti sopo sing bodo ? Sing nulis iki juga wong bodo (walah ngaku) :)

Lucune, cara-carane pak bibit sing dadi guyonan tumrap uwong-uwong sing nonton lan krungu komentare kanggo pak jokowi, lha ora maido omongan sing kurang sedhep dirungokake kuwi terang-terangan lan nohok kanggo wong liyane. Mbok opo ora iso yen iku dadi kritik utawa kawigaten ora seneng khan iso diomongake nang mburi. Dadi ora penak tenan uga sing mirsani, opo maneh pas yen ono wawancara nang Metro TV yen diketemokake, jan ora ono babar blas.

Moga-moga ojo nganti ono prahara saripetojo sambungan koyo sadurunge ... monggo diwaca serat nang ngisor.

Pemimpin Pekok, Pemimpin Pokoke
Oleh : Imam Subkhan | 01-Jul-2011, 14:12:57 WIB

KabarIndonesia - Perseteruan antara Gubernur Jateng, Bibit Waluyo dengan Walikota Solo, Joko Widodo tentang pembangunan mal di bekas Pabrik Es Saripetojo kian memanas. Genderang perang tampaknya semakin membahana dari masing-masing pihak. Statemen Bibit yang menganggap Jokowi “bodoh” di media semakin memperuncing keadaan. Rakyat Solo dari berbagai elemen termasuk kalangan dewan berang dan merasa dilecehkan dengan pernyataan Bibit tersebut. Penyeruan pemboikotan dan mosi tidak percaya terhadap Bibit mulai digalang dari kota The Spirit of Java ini.

Memang, statemen Bibit yang notabene sebagai seorang pemimpin dengan jumlah penduduk yang besar sangat tidak pantas dilakukan. Selain tidak mendidik rakyatnya, juga sama sekali tidak mencerminkan budaya orang Timur yang sangat menjunjung tinggi budaya sopan-santun. Apalagi ditujukan kepada Jokowi yang kini tengah dielu-elukan seluruh warga Solo dengan segala keberhasilannya.

Di periode kedua kepemimpinannya, Jokowi terus melaju dengan program-program pembangunan yang sangat ke-Soloan dan ke-Indonesiaan. Di mata Jokowi, kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia harus dirawat dan dilestarikan dengan kemasan yang mendunia. Bukannya dimusnahkan dan diganti dengan mal atau tempat perbelanjaan modern yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Dan di kota Solo inilah, kelihaian seorang Jokowi terbukti.

Solo, kini menjelma menjadi kota mungil nan elok rupawan, sehingga mampu menyedot para investor dan wisatawan, tidak hanya lingkup nasional, tetapi juga internasional. Tidak mengherankan jika beberapa pihak sudah menggadang-gadang Jokowi untuk bisa menyebarkan virus-virus kulturalisme dalam membangun dan mengembangkan Solo, ke daerah lain yang lebih menantang, seperti dicalonkan menjadi gubernur Jateng dan DKI Jakarta.

Oleh sebab itu, cap bodoh yang dilontarkan Bibit terhadap Jokowi dianggap sebagai perkataan orang frustasi, panik dan bernuansa kecemburuan. Apalagi di tengah-tengah menurunnya popularitas Bibit di mata masyarakat Jateng, juga ketidakpuasan kalangan parlemen atas kinerjanya, semakin membuktikan kebenaran hipotesa ini.

Statemen Bibit ini bisa menjadi blunder bagi penciptaan stabilitas pemerintahan yang dia pimpin hingga akhir periode. Bak pepatah mengatakan, menepuk air didulang, terpercik muka sendiri, bila berbuat sesuatu yang jahat atau tidak menyenangkan orang lain, maka perkara itu akan terkena kembali kepada dirinya sendiri.

Komunikasi buruk
Jika dirunut ke belakang, bukan kali ini saja Bibit melontarkan perkataan yang kurang pantas atas kapasitasnya sebagai pejabat publik. Model komunikasi yang dikembangkan Bibit, sangat tidak efektif bahkan beresiko, apalagi yang dihadapi adalah konstituennya. Bibit dikenal sebagai sosok yang temperamen, berapi-api dan penuh emosi, terutama dalam merespon beragam masalah.

Seringkali lontaran-lontarannya dibumbui dengan perkataan Jawa yang kasar, sehingga bisa membuat orang lain tersinggung dan sakit hati. Tampaknya, seorang pemimpin yang mengesankan sosok intelek dan bijak, tidak ditemukan pada diri Bibit, paling tidak jika merujuk dari apa yang dikemukakannya.

Hal ini sangat berbalikan dengan presiden kita, SBY yang sama-sama berasal dari barak militer. SBY dikenal sebagai pemimpin yang mengagung-agungkan pencitraan, terutama yang menyangkut pribadinya. Mulai dari penampilan, gaya bicara, perbendaharaan kata, ekspresi, dan postur tubuh yang bisa menunjukkan bahwa SBY ingin dilihat sebagai pemimpin yang cerdas, intelek, akademis, dan empatik terhadap keluh kesah rakyatnya.

Demikian halnya Jokowi, yang selalu mengedepankan tata krama dan martabatnya sebagai orang Jawa tulen. Kepada siapa pun, Jokowi selalu bersikap santun, menghargai, mau menyapa dan mengembangkan senyumannya yang khas. Termasuk dalam merespon tudingan “bodoh” dari Bibit, Jokowi tidak bersikap defensif, tetapi justru dengan legawa mengakuinya. Tidak hanya itu, Jokowi juga menunjukkan figur yang intelek, cerdas dan kreatif melalui tulisan-tulisannya dalam bentuk artikel di beberapa media. Hal ini sangat langka dilakukan oleh pejabat publik lainnya.

Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika Bibit mau belajar dan memperbaiki strategi komunikasi yang dibangun selama ini. Buruknya komunikasi yang diciptakan Bibit yang lebih mengadopsi pola militer dapat berakibat fatal. Dampaknya seperti saat ini, hujatan dan kecaman terus mengalir ke Bibit.

Belum hilang dari ingatan kita, ketika menanggapi penolakan warga Kebumen untuk kegiatan latihan TNI di desa Setrojenar Buluspesantren. Bibit dengan sinisnya berujar “Latihan ya latihan, ngawur, kalau rakyat melarang, ndak bisa!” (sumber: Republika.co.id). Perkataan ini jelas-jelas melukai hati warga Kebumen, seolah-olah dipandang sebelah mata oleh pemimpinnya.

Kejadian yang lebih parah, ketika mengatakan goblok kepada salah satu wartawan pada saat wawancara di Magelang tahun 2010. Akibatnya, Bibit didesak oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jateng untuk menyampaikan permintaan maaf kepada media. Tidak hanya itu, akibat kekuranghati-hatian dalam berbicara, Bibit pun sempat berurusan dengan Jaringan Advokasi Peduli Pegunungan Kendeng Utara yang mengajukan somasi atas tuduhan Bibit bahwa LSM sebagai lembaga sontoloyo karena memprovokasi masyarakat menolak pembangunan pabrik PT Semen Gresik di Sukolilo, Pati. Dan terbaru, ketika mengomentari penolakan Pemkot Solo atas pembangunan mal di Saripetojo. Dengan sombongnya Bibit berkata ”pokoknya jalan terus, tidak ada penolakan, karena itu tanah negara.”

Peringai Bibit yang semacam itu, terutama dalam bersikap dan berkata-kata sudah pasti bertentangan dengan etika orang Jawa yang menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti. Selain itu, gaya memimpin yang serba pokoke, menunjukkan pemimpin yang otoriter, congkak dan sombong. Tidak sadarkah bahwa yang memilih dia menjadi gubernur waktu lalu adalah warganya yang kini justru sering disakiti melalui berbagai statemennya.

Solo termasuk lumbung suara bagi Bibit yang mampu mengantarkannya menjadi orang nomor satu di Jateng. Apalagi kalau mau berkaca lebih dalam, antara Bibit dan Jokowi merupakan kader dari satu partai yang tidak semestinya saling menjagal dan menjatuhkan. Kata-kata bodoh yang diucapkan Bibit, jelas merupakan penghinaan, pelecehan, dan pembunuhan karakter yang luar biasa, tidak hanya bagi pribadi Jokowi tetapi seluruh rakyat Solo dan pendukung setia Jokowi di manapun berada.

Tidak ada kata terlambat untuk menuju sebuah kebaikan. Kuncinya ada di genggaman Bibit, apakah mau dengan legawa untuk meminta maaf kepada Jokowi dan warga Solo yang terlanjur sakit hati atas perkataannya. Polemik Saripetojo hendaknya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah yang melibatkan seluruh pihak-pihak terkait. Pemkot Solo dan Pemprov Jateng sama-sama memiliki kepentingan yang juga diatur di dalam undang-undang. Kebijakan publik yang serba pokoke atau pola komando seperti di mileter sangat tidak tepat untuk diterapkan pada masyarakat yang heterogen. (*)

Imam Subkhan, Pemerhati sosial tinggal di Jaten Karanganyar

Sumber : KabarIndonesia

Baca Artikel Terkait

Comments

0 Responses to "Babak Prahara Saripetojo Bab II"

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk respon/pertanyaan. NO SPAM, No Links, No SARA, No P*RNO! Komentar berisi LINK & tidak sesuai ketentuan akan langsung dihapus.

Pengikut

Let's Talk

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Daftar Isi

This Blog Has Acces For Time

Protected by Copyscape Unique Content Checker
 
duit